Pandangan Traveling Menurut Mahasiswa

Seiring dengan berkembangnya zaman, kegiatan traveling menjadi salah satu kegiatan yang diminati oleh kalangan masyarakat terutama oleh anak muda atau kaum millenial. Mayoritas orang menghilangkan rasa bosan dengan beralih ke traveling dan tak sedikit masyarakat yang menganggap traveling merupakan bagian dari hobi dan lifestyle, karena memang traveling sudah menjadi trending topic di mata masyarakat terutama anak muda. Umumnya kegiatan traveling yang dilakukan akan dijadikan bahan konten di akun media sosial mereka seperti twitter dan instagram. Menurut Kamus besar bahasa Indonesia menyatakan bahwa Traveling adalah aktivitas melancong; berpindah dalam satu tempat ketempat lainnya dengan berbagai alasan, seperti bisnis, liburan, dan sebagainya (2008: 807). Pada saat ini, aktivitas travelling lebih sering dianggap sebagai hobi ketimbang pekerjaan. Traveling merupakan salah satu cara untuk membuka wawasan dan memperluas pengetahuan kita dalam mengunjungi tempat baru atau tempat yang sudah kita kenal dengan mencoba berinteraksi dengan objek sekitar kita. Dalam pengertiannya orang yang melakukan traveling disebut sebagai traveler. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia traveler atau pelancong mempunyai arti orang yang melakukan kegiatan bepergian atau biasa disebut dengan turis dan wisatawan. Meskipun traveling sudah menjadi hobi dan lifestyle di dewasa ini, tetapi masih banyak traveler yang bingung dalam menentukan destinasi mereka, bingung persoalan informasi budget yang harus dikeluarkan, dan juga informasi pendukung lainnya mengenai tempat tujuan mereka. Faktor-faktor inilah yang kemudian menjadi penghambat dalam setiap kegiatan traveling karena banyak yang menganggap traveling itu sangat membutuhkan kepastian dari segala aspek agar bisa menikmati perjalanan tanpa adanya gangguan internal maupun eksternal. Dalam kegiatan traveling, selain terdapat faktor penghambat, di sisi lain juga terdapat faktor pendukung. Berbagai faktor yang muncul sehingga seseorang melakukan traveling, yaitu : 1) Sarana untuk refreshing 2) Traveling dianggap lebih positif untuk mengisi waktu luang 3) Pengaruh teman 4) Pengaruh media 5) Keadaan ekonomi yang cukup. Ketertarikan masyarakat, yang mana maksudnya disini adalah mahasiswa terhadap traveling merupakan suatu hal yang menarik untuk dilakukan oleh kaum muda dalam mengisi
waktu luangnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi ini pada umumnya hampir sama antar individu yang melakukan traveling. Adapun ketertarikan mahasiswa memilih traveling yaitu berkaitan dengan hobi dan minatnya melakukan perjalanan wisata. Mahasiswa yang menyukai perjalanan wisata ini pada umumnya sudah sejak lama melakukan kegiatan traveling serta mereka kerap kali melakukan perjalanan baik
bersama teman ataupun keluarganya karena adanya rasa enjoy dalam melakukan kegiatan ini. Sebagian besar mahasiswa juga mengungkapkan alasan fleksibilitas dan kenyamanan melakukan perjalanan wisata dengan traveling lebih diutamakan. Traveling dalam pemanfaatan waktu luang menurut Dumazedier (1967) waktu luang adalah relaksasi, hiburan, dan pengembangan diri. Tujuan kegiatan traveling ini pada masyarakat umumnya untuk refreshing dan rekreasi dalam mengisi waktu luang. Masyarakat yang dalam hal ini khususnya mahasiswa kerap kali mengisi waktu libur kuliahnya untuk kegiatan traveling ke berbagai wilayah diluar tempat tinggalnya dengan tujuan murni untuk berlibur dan sebagai konsumen di daerah tujuan wisata yang dikunjungi. Menurut Dumazedier (1967) dalam Taylor (2005, 16-19) waktu luang sebagai suatu kegiatan terlepas dari kewajiban bekerja, keluarga dan bermasyarakat yang mana individu sesuka hati, untuk relaksasi, pengalihan, atau memperluas kemampuan pribadinya dan kespontanan pastisipasi sosialnya, latihan bebas dam kapasitasnya untuk berkreatif. Waktu luang digambarkan sebagai waktu senggang setelah segala kebutuhan yang mudah telah dilakukan. Waktu lebih yang dimiliki untuk melakukan segala hal sesuai dengan keinginan yang bersifat positif. Traveling di kalangan mahasiswa ini dilakukan setiap ada waktu senggang seperti liburan semester maupun hari libur nasional lainnya. Dalam pemanfaatan waktu luangnya, mahasiswa melakukan traveling sesuai dengan kondisi dimana ada kesempatan maka mereka akan merencanakan sebuah perjalanan baik lokasi serta anggaran yang dibutuhkan untuk melakukan traveling.Traveling sebagai gaya hidup mahasiswa dalam mengisi waktu luang merupakan ciri sebuah dunia modern, atau yang biasa juga disebut modernitas (Chaney, 2011: 40). Masyarakat yang hidup di dunia modern akan menggunakan gagasan gaya hidup untuk menggambarkan tindakannya. Gaya hidup dalam hal ini menyangkut hobi dan kesukaan individu akan aktivitas tertentu yang salah satunya digunakan untuk mengisi waktu luang. Hobi adalah kegemaran, kesenangan istimewa pada waktu senggang, bukan pekerjaan utama (KBBI: 2008). Adapun pengertian hobi atau minat menurut Crow & Crow (Abror, 1993:112) adalah sesuatu yang berhubungan dengan daya gerak yang mendorong kita cenderung atau merasa tertarik pada orang, benda, kegiatan ataupun bisa berupa pengalaman yang efektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Sedangkan pengertian gaya hidup menurut Kotler yaitu “Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat dan opininya” (Kotler, 2002: 192). Gaya hidup menunjukan bagaimana orang hidup, bagaimana membelanjakan uangnya, dan bagaimana mengalokasikan waktu dalam kehidupannya, dapat dilihat dari aktivitas sehari harinya dan minat yang menjadi kebutuhan dalam hidupnya. Hobi jalan-jalan yang biasa dilakukan mahasiswa akan di ekspresikan dalam suatu aktivitas dan minatnya melakukan perjalanan wisata dan berkembang menjadi gaya hidup traveling. Gaya hidup traveling menunjukan mahasiswa memiliki minat melakukan perjalanan wisata dan di realisasikan dengan membelajakan uangnya untuk mengisi waktu luang dengan cara traveling di
sela kesibukan perkuliahan. Ada beberapa faktor penting yang mendorong untuk berwisata, menurut Jackson (1989), bahwa faktor penting yang menentukan permintaan pariwisata atau dorongan untuk berwisata berasal dari komponen daerah asal wisatawan antara lain, jumlah penduduk (population size), kemampuan finansial masyarakat (financial means), waktu senggang yang dimiliki (leisure time), sistem
transportasi, dan sistem pemasaran pariwisata yang ada (Pitana, 2005: 62). Dilihat dari segi waktu luang yang dimiliki mahasiswa jelas memiliki waktu luang disaat libur perkuliahan karena mereka bisa melakukan traveling berhari-hari hingga berminggu-minggu. Jika dilihat dari kemampuan finansial ini dilihat dari jumlah dana yang dikeluarkan cukup banyak untuk memenuhi gaya hidup traveling oleh mahasiswa.
Dalam pelaksanaan traveling sebagai suatu gaya hidup oleh mahasiswa ini menjadi pengukur status sosial untuk menempatkan dirinya. Aktivitas liburan ini kerap kali dilakukan mahasiswa berkali-kali di setiap ada kesempatan untuk berlibur. Mereka menghabiskan waktu luangnya untuk liburan dengan menggunakan uangnya untuk menikmati fasilitas di daerah tujuan wisata yang dikunjunginya murni sebagai
konsumen. Adapun tujuan agar tidak ketinggalan jaman diantara sesama mahasiswa dan lingkungan temannya. Selain itu juga pembentukan gaya hidup dapat dilihat melalui mahasiswa sebagai traveler dalam menikmati semua fasilitas selama liburan seperti kenyamanan transportasi, penginapan, hidangan makanan, dan hal yang menunjang dalam kegiatan traveling. Menurut Smith dalam Cooper et.al (2005:
228), menyebutkan kelompok wisatawan yang di dorong oleh kebutuhan (need-driven). Wisatawan dalam memiliki dua tipe gaya hidup. Tipe yang pertama yaitu Gaya hidup bertahan atau sustainer adalah wisatawan memiliki gaya hidup bertahan yang mengikuti dan menginginkan perubahan. Dengan keterbatasan yang ada, ia berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhannya. Ia biasanya kreatif dalam memanfaatkan segala kesempatan untu mewujudkan kegiatan traveling dengan cara menyisihkan uang saku untuk memenuhi kebutuhannya selama melakukan traveling. Namun di sisi lain tipe wisatawan yaitu gaya hidup survivor ̧ adalah wisatawan dengan gaya hidup apa adanya.
Kenyamanan yang dicari tidak perlu maksimal, tetapi tetap sesuai dengan kebutuhan. Contohnya aktivitas yang dilakukannya ini tidak hanya menghabiskan uang namun tujuan menambah pengetahuannya ini dapat terpenuhi. Perbedaan mahasiswa yang melakukan traveling dengan yang tidak melakukan dapat dilihat dari cara bergaulnya. Salah satunya gaya komunikasi ini akan Nampak dari cara dia mencari topik pembicaraan yang bervariasi dan tidak hanya itu-itu saja, cara dia menyampaikan materi pembicaan akan lebih menarik untuk didengarkan oleh temannya, serta pola pikirnya lebih terbuka karena banyaknya wawasan yang didapat dari traveling. Mahasiswa yang melakukan traveling merasakan kegiatannya ini mengurangi stress dalam menjalani perkuliahan sehingga ia akan merasa enjoy. Setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia pasti akan menghasiskan suatu akibat atau dampak yang muncul. Begitu pula dengan gaya hidup traveling pada mahasiswa yang secara umum memunculkan berbagai dampak positif dan negatif. Berikut adapun dampak positif dan dampak negatif secara umum dari kegiatan traveling sebagai bentuk gaya hidup mahasiswa dalam mengisi waktu luangnya. Dampak positifnya yaitu, (1) sebagai sarana hiburan; (2) memperoleh wawasan pengetahuan; (3) menambah relasi. Sedangkan dampak negatifnya yaitu, (1) menimbulkan perilaku traveling sebagai gaya boros; (2) menyepelekan kegiatan di kampus; (3) terganggunya kesehatan (sakit) akibat kelelahan.

Referensi
: https://books.google.co.jp/books http://journal.student.uny.ac.id/ojs/ojs/index.php/societas/article/download/9083/8747http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab1/2013-2-00890-MC%20Bab1001.pdf https://reamift25.files.wordpress.com/2018/01/traveling-
makalah-mifta.docx http://journal.student.uny.ac.id/ojs/index.php/societas/article/download/9083/8754https://www.coursehero.com/file/27266842/Pariwisata-Kelompok-2doc/

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started